Kota Palu — Dalam semangat penguatan mutu pendidikan di lingkungan madrasah, khususnya dalam menghadapi tantangan abad ke-21, tim dosen dari Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako tengah mempersiapkan pelaksanaan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Madrasah pada Sekolah Ramah Anak dalam Menyusun Strategi Efektif untuk Melatih Siswa dalam Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Kegiatan pengabdian masyarakat ini akan digelar di MTsN 2 Kota Palu, dan dirancang sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan dunia pendidikan madrasah yang terus berkembang.
Dipimpin oleh Dr. Darsikin, M.Si selaku ketua tim, kegiatan ini melibatkan kolaborasi antar pakar pendidikan dan fisika, di antaranya Dr. Sahrul Saehana, S.Pd., M.Si, Andi Ulfah Khuzaimah, M.Pd, Nurul Kami Sani, S.Pd., M.Pd, Dr. Muslimin, M.Si, Drs. Syamsu, M.Si, serta Rizki Ilmianih, S.Pd., M.Sc. Seluruh anggota tim merupakan dosen dengan kompetensi di bidang pendidikan sains, pengembangan strategi pembelajaran, dan pelatihan guru, yang selama ini aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan penelitian terapan di bidang pendidikan fisika.
Kegiatan ini lahir dari keprihatinan bersama atas masih rendahnya keterwakilan madrasah dalam ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat nasional, terutama dari wilayah-wilayah di luar Jawa. Meski banyak guru yang memiliki semangat tinggi, namun keterbatasan dalam strategi pembinaan, pemahaman konten KSM, serta pendekatan pembelajaran yang ramah anak menjadi hambatan yang kerap dihadapi.
“Melalui Bimtek ini, kami ingin membekali guru madrasah dengan pendekatan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga membangun suasana belajar yang ramah, inklusif, dan mendorong eksplorasi sains secara menyenangkan,” jelas Dr. Darsikin dalam rapat persiapan internal tim.
Menurutnya, penyusunan strategi pembinaan siswa untuk kompetisi tidak cukup hanya berfokus pada latihan soal semata. Harus ada integrasi antara higher-order thinking skills (HOTS), pendekatan saintifik, serta penguatan nilai-nilai karakter dalam proses pelatihan. Terlebih, prinsip Sekolah Ramah Anak harus menjadi pijakan utama agar siswa merasa aman, nyaman, dan termotivasi secara intrinsik dalam proses belajar.
Bimbingan Teknis ini akan menyasar para guru IPA dan matematika di lingkungan madrasah, baik MTs maupun MA, yang secara langsung terlibat dalam pembinaan siswa menghadapi KSM. Materi yang akan disampaikan mencakup:
Pengenalan Format dan Karakteristik Soal KSM
Guru akan dibekali pemahaman tentang pola soal, standar penilaian, serta integrasi sains dan agama yang menjadi ciri khas kompetisi ini.
Strategi Pembelajaran Berbasis Inkuiri dan Kontekstual
Pendekatan inquiry-based learning dan pembelajaran kontekstual akan menjadi model utama dalam pembinaan siswa, agar mampu berpikir kritis dan sistematis.
Simulasi Pelatihan KSM Ramah Anak
Melalui sesi lokakarya, peserta akan diajak menyusun skenario pelatihan siswa yang mengedepankan pendekatan menyenangkan, aman, dan partisipatif.
Mentoring dan Refleksi Praktik Terbaik
Guru akan diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan narasumber mengenai kendala lapangan dan strategi adaptasi di lingkungan madrasah masing-masing.
Tim pengabdian juga menyiapkan modul dan perangkat evaluasi sebagai bagian dari luaran kegiatan yang dapat digunakan secara berkelanjutan oleh sekolah peserta.
Salah satu kekhasan Bimtek ini adalah integrasinya dengan prinsip Sekolah Ramah Anak (SRA). Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang mendorong seluruh satuan pendidikan, termasuk madrasah, untuk mengedepankan pendekatan pembelajaran yang menghargai hak-hak anak.
Dr. Sahrul Saehana, anggota tim sekaligus pakar pendidikan karakter, menyebutkan bahwa pendekatan pembinaan siswa untuk lomba sering kali mengabaikan aspek kesejahteraan psikologis anak. “Kami ingin guru menyadari bahwa kompetisi bukan sekadar soal menang atau kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana anak mengalami proses belajar yang bermakna, didampingi, dan dihargai setiap usahanya,” ungkapnya.
Koordinator Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako, Dr. Haeruddin, turut menyampaikan apresiasi atas inisiatif kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan ini merupakan implementasi konkret dari visi program studi, yaitu membentuk pendidik fisika yang peka terhadap dinamika dan kebutuhan lingkungan sekitar.
“Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan fisika tidak hanya bicara laboratorium dan teori, tapi juga menyentuh aspek sosial dan kemasyarakatan. Inilah semangat pengabdian yang kami dorong, yakni kepekaan terhadap realitas di lapangan dan keberpihakan pada mutu pendidikan anak-anak kita,” ujar Dr. Haeruddin.
Kepala MTsN 2 Kota Palu, Munirah, M.Ag, menyambut dengan antusias dan penuh sukacita atas kehadiran para dosen Pendidikan Fisika Universitas Tadulako di madrasah yang dipimpinnya. Baginya, kegiatan ini adalah kesempatan langka dan sangat bermanfaat.
“Saya sangat senang dan berterima kasih atas kehadiran para dosen dari Untad. Kehadiran mereka memberikan semangat baru bagi para guru kami dalam meningkatkan kompetensi, khususnya dalam membina siswa menghadapi KSM. Kami berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi madrasah lainnya,” ujar Munirah dengan penuh harap.
Ia juga menambahkan bahwa madrasah yang ia pimpin berkomitmen menjadi madrasah unggulan yang menjunjung tinggi nilai akademik sekaligus nilai-nilai kemanusiaan dalam bingkai Sekolah Ramah Anak.
Kepala MTsN 2 Kota Palu menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Ia menilai bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari sinergi antara perguruan tinggi dan madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan.
“Selama ini kami merasa membutuhkan panduan dan pendampingan dalam membina siswa untuk ajang seperti KSM. Kegiatan ini sangat tepat dan kami sangat antusias menyambutnya,” katanya dalam pertemuan koordinasi dengan tim pelaksana.
Diharapkan, setelah pelaksanaan kegiatan ini, para guru peserta mampu menerapkan strategi-strategi efektif yang telah didapatkan dalam proses bimbingan teknis, serta dapat mereplikasi praktik baik tersebut di madrasah masing-masing.
Bagi tim dosen Pendidikan Fisika FKIP Untad, kegiatan ini bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga bagian dari misi membangun ekosistem pendidikan madrasah yang unggul dan berdaya saing. Dengan menempatkan guru sebagai ujung tombak perubahan dan anak sebagai subjek utama pembelajaran, kegiatan ini ingin menegaskan bahwa pendidikan sains di madrasah memiliki potensi besar untuk berkembang, sejauh diberikan ruang dan strategi yang tepat.
Bimtek ini dijadwalkan akan berlangsung selama dua hari penuh dengan pendekatan interaktif dan reflektif. Luaran kegiatan juga akan dipublikasikan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan model pelatihan guru madrasah berbasis SRA dan kompetisi sains.
Sebagai catatan akhir, Dr. Darsikin menyampaikan bahwa semangat kolaborasi dan kepedulian terhadap masa depan generasi madrasah harus terus dirawat. “Kami percaya, di tangan guru-guru madrasah yang kompeten dan peduli, siswa-siswa kita akan mampu menjawab tantangan zaman dengan kepala tegak dan hati yang mulia,” pungkasnya.