Palu – Dunia pendidikan semakin ditantang untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Hal itu pula yang mendorong terselenggaranya kegiatan “Optimalisasi Penggunaan Alat Peraga Berbasis Aplikasi Interaktif pada Konsep Fisika” yang digelar bersama SMAN 5 Palu pada 12 September 2025.
Kegiatan ini berfokus pada pemanfaatan aplikasi interaktif PhET (Physics Education Technology), sebuah platform simulasi yang dikembangkan oleh University of Colorado Boulder dan kini menjadi salah satu sumber belajar favorit di seluruh dunia.
Tim pengabdi terdiri dari dosen-dosen dari Universitas Tadulako, yakni: Wahyuni N Laratu, S.Pd., M.Pd. (Ketua), Prof. Dr. Jusman Mansur, S.Pd., M.Si. (Anggota), Dr. I Komang Werdhiana, M.Si. (Anggota), Gustina, S.Pd., M.Pd. (Anggota), Nurul Kami Sani, S.Pd., M.Pd. (Anggota), dan Andi Ulfah Khuzaimah, M.Pd. (Anggota). Mereka hadir dengan satu visi: memperkuat kemampuan guru dan siswa dalam mengoptimalkan pembelajaran fisika melalui pendekatan interaktif.
Dalam sambutannya, Wahyuni N Laratu menegaskan pentingnya mengubah paradigma belajar fisika yang selama ini sering dianggap sulit. “Banyak siswa menganggap fisika hanya soal rumus dan hitungan. Padahal, jika divisualisasikan dengan tepat, konsep fisika bisa sangat mudah dipahami. PhET memberikan jawaban atas kebutuhan itu,” ujarnya.
PhET memungkinkan siswa dan guru untuk melakukan simulasi berbagai konsep fisika seperti hukum Newton, listrik magnet, gelombang, hingga struktur atom. Melalui simulasi ini, siswa dapat melakukan eksperimen virtual yang aman, murah, dan sangat interaktif.
Para guru SMAN 5 Palu pun terlihat antusias saat mencoba langsung simulasi gaya dan gerak. Dengan beberapa klik saja, mereka bisa mengatur massa benda, besar gaya, serta koefisien gesekan, lalu mengamati bagaimana perubahan parameter tersebut memengaruhi gerak benda.
“Ini seperti punya laboratorium lengkap di dalam laptop,” ungkap salah seorang guru fisika yang menjadi peserta.
Selain memperkenalkan penggunaan dasar PhET, tim dosen juga mendemonstrasikan bagaimana aplikasi ini bisa diintegrasikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dr. I Komang Werdhiana menekankan pentingnya kreativitas guru dalam memadukan simulasi dengan strategi pembelajaran aktif.
“Jangan hanya menampilkan simulasi. Libatkan siswa untuk menganalisis, berdiskusi, bahkan memprediksi hasil simulasi. Dengan begitu, pembelajaran akan lebih bermakna,” katanya.
Prof. Dr. Jusman Mansur, yang juga hadir dalam sesi diskusi, menambahkan bahwa penggunaan aplikasi seperti PhET tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual siswa, tetapi juga mengasah keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. “Fisika adalah ilmu yang melatih cara berpikir logis. Dengan bantuan simulasi, siswa dapat melihat hubungan sebab-akibat secara langsung,” jelasnya.
Kepala SMAN 5 Palu menyampaikan apresiasi kepada Universitas Tadulako atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, guru-guru fisika di sekolah memang membutuhkan inovasi agar pembelajaran tidak monoton.
“Selama ini, keterbatasan fasilitas laboratorium membuat pembelajaran fisika cenderung teoritis. Dengan adanya pelatihan ini, guru bisa menghadirkan pengalaman belajar layaknya di laboratorium nyata,” ujarnya.
Sementara itu, beberapa siswa yang ikut mencoba simulasi langsung mengaku lebih mudah memahami konsep. “Kalau biasanya belajar gaya cuma lewat rumus, sekarang bisa langsung lihat perubahannya di layar. Jadi lebih seru,” kata Rina, siswi kelas XI IPA.
Kegiatan pengabdian ini juga menegaskan komitmen Universitas Tadulako untuk mendukung transformasi pendidikan di era digital. Gustina dalam sesinya menekankan bahwa pembelajaran berbasis teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
“Generasi Z dan Alpha adalah digital native. Mereka butuh media yang sesuai dengan karakter belajar mereka. Dengan PhET, guru dapat menjembatani antara tuntutan kurikulum dan kebutuhan siswa masa kini,” jelasnya.
Nurul Kami Sani kemudian menambahkan bahwa aplikasi interaktif seperti PhET bisa membantu siswa yang berbeda tingkat pemahamannya. “Ada siswa yang cepat memahami rumus, ada juga yang butuh melihat visualisasi. PhET bisa mengakomodasi keduanya,” ujarnya.
Andi Ulfah Khuzaimah menutup sesi dengan mengajak guru dan siswa untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta inovasi. “Mari jadikan PhET sebagai inspirasi. Guru bisa mengembangkan LKPD, kuis, bahkan penelitian kecil bersama siswa dengan memanfaatkan aplikasi ini,” katanya.
Pelatihan sehari penuh itu ditutup dengan praktik membuat perangkat pembelajaran berbasis PhET, mulai dari penyusunan tujuan, langkah-langkah eksperimen virtual, hingga penyusunan asesmen. Guru dan siswa SMAN 5 Palu menghasilkan rancangan kegiatan belajar yang langsung bisa diterapkan di kelas.
Pihak sekolah berharap kegiatan seperti ini bisa berlanjut, bahkan diperluas ke mata pelajaran lain. “Kami ingin agar SMAN 5 Palu menjadi pionir dalam penerapan aplikasi interaktif, khususnya di bidang sains,” ujar perwakilan sekolah.
Tim Universitas Tadulako pun berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan. “Kami akan membuat forum daring bagi guru-guru untuk saling berbagi pengalaman dan kesulitan dalam menggunakan PhET. Dengan begitu, inovasi ini tidak berhenti di satu kegiatan saja,” ungkap Wahyuni N Laratu.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, kegiatan di SMAN 5 Palu ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi bisa menghadirkan wajah pendidikan yang lebih humanis. Dengan aplikasi interaktif, fisika tidak lagi tampil sebagai mata pelajaran yang menakutkan, melainkan sebagai ilmu yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Optimalisasi penggunaan PhET bukan hanya sekadar meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga menanamkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemandirian belajar. Hal ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman.
Dengan demikian, kegiatan “Optimalisasi Penggunaan Alat Peraga Berbasis Aplikasi Interaktif pada Konsep Fisika” bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan langkah strategis menuju transformasi pendidikan yang lebih bermakna di Kota Palu.