Widyaiswara BPSDM Sulteng Ajak Mahasiswa Baru Pendidikan Fisika UNTAD Bangun Kompetensi, Integritas, dan Jiwa Pembelajar Sepanjang Hayat

Palu, 05  Agustus 2026 – Kompetensi seorang pendidik pada era disrupsi tidak lagi diukur semata-mata dari penguasaan materi ajar. Guru masa depan dituntut memiliki karakter kepemimpinan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, kecakapan memanfaatkan teknologi, serta komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat. Pesan tersebut menjadi benang merah yang disampaikan Dr. Aspina, S.Pd., M.Pd., Widyaiswara Ahli Madya Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, saat menjadi pemateri ketiga dalam Kuliah Umum Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako, Rabu (5/8).

Mengangkat tema “Pengembangan Kompetensi SDM Sebagai Pendidik Unggul”, Dr. Aspina mengajak ratusan mahasiswa baru Pendidikan Fisika untuk mempersiapkan diri menjadi pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kepemimpinan yang adaptif, dan kemampuan menghadapi perubahan dunia pendidikan yang berlangsung sangat cepat. Sesi tersebut dipandu oleh moderator Ielda Paramita, S.Pd., M.Pd., yang mengarahkan diskusi berlangsung interaktif sejak awal hingga akhir.

Sejak membuka paparannya, Dr. Aspina menegaskan bahwa kualitas pendidikan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelola pendidikan tersebut. Karena itu, investasi terbesar yang harus dilakukan perguruan tinggi bukan hanya menyediakan kurikulum dan fasilitas pembelajaran, tetapi membangun kompetensi mahasiswa sebagai calon pendidik profesional.

“Kalau ingin menghasilkan pendidikan yang unggul, maka kita harus memulai dari manusianya. Kurikulum dapat berubah, teknologi akan terus berkembang, tetapi manusia yang memiliki karakter, kompetensi, dan kemauan belajar akan selalu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan,” ujarnya di hadapan peserta.

Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan bertema “Transformasi Pendidikan Fisika Menuju Generasi Unggul: Sinergi Kebijakan, Tata Kelola, dan Pengembangan Kompetensi Pendidik.” Tema ini dipilih untuk memberikan wawasan komprehensif kepada mahasiswa baru mengenai tantangan pendidikan abad ke-21 sekaligus memperkenalkan arah pengembangan profesi guru yang semakin dinamis.

Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade di dunia pendidikan, Dr. Aspina menyampaikan bahwa perjalanan kariernya sebagai guru, pejabat struktural di Dinas Pendidikan, hingga menjadi widyaiswara memberikan pelajaran bahwa keberhasilan seorang pendidik tidak pernah berhenti pada ijazah ataupun jabatan. Keberhasilan justru ditentukan oleh kesediaan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan beradaptasi terhadap perubahan.

Kariernya dimulai sebagai guru pada periode 2000–2011 sebelum dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Manajemen Pendidikan Menengah dan Kejuruan, kemudian Kepala Bidang Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan. Sejak 2015 hingga sekarang, ia mengabdikan diri sebagai Widyaiswara Ahli Madya pada BPSDM Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dengan fokus mengembangkan kompetensi aparatur dan kepemimpinan.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dunia pendidikan membutuhkan sosok-sosok yang mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

“Jangan pernah merasa cukup dengan apa yang kalian pelajari hari ini. Dunia berubah begitu cepat. Guru yang berhenti belajar akan tertinggal, sedangkan guru yang terus mengembangkan dirinya akan selalu menjadi bagian dari solusi,” katanya.

Dalam paparannya, Dr. Aspina menjelaskan bahwa pendidik unggul harus memiliki keseimbangan antara kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Keempat kompetensi tersebut harus tumbuh secara harmonis agar seorang guru mampu membangun pembelajaran yang efektif sekaligus menjadi teladan bagi peserta didiknya.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan soft skills yang selama ini sering dianggap sebagai pelengkap, padahal justru menjadi faktor pembeda dalam dunia kerja. Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja sama, mengelola emosi, memimpin tim, serta menyelesaikan konflik merupakan kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam dunia pendidikan modern.

“Ilmu pengetahuan membuat seseorang menjadi pintar, tetapi karakter, integritas, dan kemampuan bekerja sama membuat seseorang dipercaya. Seorang guru harus memiliki keduanya,” ungkapnya.

Sebagai widyaiswara yang selama bertahun-tahun menangani berbagai pelatihan kepemimpinan, Pelatihan Dasar CPNS, Revolusi Mental Pelayanan Publik, hingga pelatihan penilaian angka kredit guru, Dr. Aspina menilai bahwa kepemimpinan bukanlah kemampuan yang muncul karena jabatan, melainkan kompetensi yang harus dilatih sejak masih menjadi mahasiswa.

Ia mengajak mahasiswa baru untuk aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan, kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, seminar ilmiah, serta kompetisi akademik sebagai wahana membangun kepemimpinan dan kemampuan bekerja dalam tim.

“Jangan hanya mengejar nilai IPK. Jadilah mahasiswa yang kaya pengalaman. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang mampu memimpin, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” pesannya.

Dalam sesi tersebut, Dr. Aspina juga menyoroti semakin besarnya pengaruh transformasi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) terhadap dunia pendidikan. Menurutnya, AI bukanlah ancaman bagi guru, melainkan alat yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran apabila digunakan secara bertanggung jawab.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan.

“Teknologi mampu membantu guru menyampaikan materi, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan empati, keteladanan, kepedulian, dan sentuhan kemanusiaan yang dimiliki seorang pendidik. Nilai-nilai itulah yang harus terus dijaga,” tegasnya.

Sebagai akademisi yang telah menulis sejumlah buku dan artikel ilmiah mengenai kepemimpinan, pelayanan publik, kecerdasan emosional, hingga kompetensi guru, Dr. Aspina menjelaskan bahwa budaya membaca, menulis, dan meneliti merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan profesionalisme pendidik.

Ia mendorong mahasiswa untuk mulai membangun kebiasaan menghasilkan karya ilmiah sejak semester awal agar memiliki kemampuan berpikir sistematis, analitis, dan berbasis bukti.

“Guru masa depan bukan hanya pengguna ilmu pengetahuan, tetapi juga pencipta pengetahuan. Karena itu, biasakan membaca jurnal, menulis artikel, melakukan penelitian, dan membangun budaya akademik sejak sekarang,” katanya.

Diskusi yang dipandu moderator Ielda Paramita, S.Pd., M.Pd. berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Berbagai pertanyaan diajukan mahasiswa, mulai dari strategi meningkatkan kompetensi diri, membangun kepercayaan diri sebagai calon guru, hingga cara menghadapi perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Dr. Aspina menekankan bahwa pengembangan kompetensi harus dilakukan secara berkelanjutan melalui tiga pilar utama, yakni belajar secara terus-menerus, membangun karakter yang kuat, dan memperluas pengalaman nyata di lapangan.

Menurutnya, ketiga aspek tersebut akan membentuk pendidik yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang memberikan inspirasi bagi peserta didiknya.

Di penghujung sesi, Dr. Aspina menyampaikan pesan motivasi kepada seluruh mahasiswa baru Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako agar memanfaatkan masa kuliah sebagai periode pembentukan karakter dan profesionalisme.

“Empat tahun ke depan akan menentukan kualitas empat puluh tahun karier kalian sebagai pendidik. Gunakan setiap kesempatan untuk belajar, bertanya, mencoba, gagal, bangkit kembali, dan terus berkembang. Jadilah guru yang tidak hanya mengajar fisika, tetapi juga mampu menyalakan semangat belajar, membangun karakter, dan menginspirasi generasi masa depan.”

Kuliah umum sesi ketiga ini memperkaya perspektif mahasiswa baru mengenai pentingnya pengembangan sumber daya manusia dalam dunia pendidikan. Tidak hanya memberikan pemahaman konseptual, materi yang disampaikan juga menghadirkan pengalaman nyata seorang praktisi pendidikan yang telah meniti karier mulai dari guru hingga menjadi widyaiswara ahli madya.

Widyaiswara BPSDM Sulteng Ajak Mahasiswa Baru Pendidikan Fisika UNTAD Bangun Kompetensi, Integritas, dan Jiwa Pembelajar Sepanjang Hayat

Bagi Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako, sesi ini menjadi penegasan bahwa transformasi pendidikan hanya dapat diwujudkan melalui pendidik yang terus mengembangkan kompetensi, menjunjung tinggi integritas, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki komitmen untuk belajar sepanjang hayat. Dengan bekal tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu tumbuh menjadi guru fisika profesional yang berdaya saing global sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Tengah dan Indonesia.

Terkait