Palu, 22 Juli 2025 — Dalam rangka meningkatkan mutu proses pembelajaran dan memperkuat budaya penjaminan mutu internal, Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako menyelenggarakan Workshop Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pelaksanaan Pembelajaran. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusiasme dan menjadi forum reflektif yang mempertemukan dosen dan mahasiswa dalam suasana dialog terbuka dan konstruktif.
Workshop ini merupakan bagian dari komitmen Program Studi untuk terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan pembelajaran secara berkelanjutan. Tidak hanya berfokus pada penilaian terhadap perkuliahan semester berjalan, kegiatan ini juga diarahkan untuk meninjau kembali efektivitas berbagai kebijakan dan langkah perbaikan yang telah diterapkan sebelumnya, sehingga setiap keputusan pengembangan prodi benar-benar berbasis pada data dan pengalaman nyata sivitas akademika.
Kegiatan dipimpin oleh Rizky Ilmianih, M.Sc. selaku Ketua Pelaksana, dengan dukungan penuh dari Koordinator Program Studi Pendidikan Fisika, Dr. Haeruddin. Sejumlah dosen senior dan dosen muda, di antaranya Prof. Jusman, Dr. I Komang Werdhiana, dan Nurul Kamisani, M.Pd., turut hadir dan terlibat aktif dalam diskusi.
Salah satu kekuatan utama workshop ini adalah keterlibatan aktif mahasiswa. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam mengevaluasi dan mengawal mutu pembelajaran. Melalui sesi diskusi dan pemaparan hasil isian angket, mahasiswa secara terbuka menyampaikan pengalaman mereka mengikuti perkuliahan, sekaligus memberikan penilaian terhadap kebijakan dan praktik pembelajaran yang telah dijalankan oleh Program Studi.
Mahasiswa menilai bahwa Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan struktur materi kuliah pada umumnya sudah jelas dan relevan dengan bidang Pendidikan Fisika. Namun, mereka juga menyampaikan perlunya penguatan pada aspek-aspek tertentu, seperti kemampuan meneliti, kemampuan merancang program pembelajaran, serta keterampilan mengajar fisika yang lebih praktis dan kontekstual.
Beberapa mahasiswa juga mengapresiasi inisiatif dosen yang telah mulai memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), seperti ChatGPT dan Gemini, sebagai alat bantu dalam memahami konsep dan menyusun tugas. Inovasi ini dipandang sebagai langkah positif menuju pembelajaran yang lebih modern dan adaptif.
Di samping apresiasi, mahasiswa juga menyampaikan berbagai catatan penting yang mencerminkan pengalaman mereka di ruang kelas dan laboratorium. Mereka menekankan bahwa praktikum dan diskusi merupakan metode yang paling efektif dalam membantu memahami konsep fisika, jauh lebih bermakna dibandingkan pembelajaran yang hanya berfokus pada teori.
Namun, efektivitas praktikum sering terkendala oleh keterbatasan sarana dan prasarana laboratorium. Mahasiswa mengeluhkan jumlah dan kondisi alat praktikum yang belum memadai, banyak yang rusak, dan belum sepenuhnya mendukung eksperimen berbasis inkuiri. Selain itu, kondisi ruang kelas yang panas akibat AC yang kurang berfungsi optimal serta jaringan Wi-Fi yang belum stabil turut memengaruhi kenyamanan dan kelancaran pembelajaran.
Dalam aspek evaluasi pembelajaran, mahasiswa mengapresiasi adanya angket evaluasi rutin yang dilaksanakan dua kali setiap semester. Meski demikian, mereka berharap agar hasil UTS dan UAS disampaikan secara lebih transparan, karena selama ini nilai sering tidak dibagikan sehingga menimbulkan kebingungan ketika nilai akhir di KHS tidak sesuai dengan ekspektasi.
Masukan juga disampaikan terkait layanan akademik dan administrasi, termasuk perlunya peningkatan kecepatan pelayanan, komunikasi yang lebih humanis, serta kemudahan dalam mengakses dosen pembimbing, khususnya bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.
Para dosen yang hadir memberikan tanggapan dan refleksi terhadap berbagai masukan mahasiswa. Mereka menekankan pentingnya perbaikan desain dan pelaksanaan pembelajaran agar lebih responsif terhadap dinamika kelas dan kebutuhan mahasiswa yang semakin beragam.
Ditekankan pula bahwa pendekatan pembelajaran perlu terus dikembangkan agar mendorong mahasiswa lebih aktif, kreatif, dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas serta menghadapi ujian. Di sisi lain, penegakan etika akademik menjadi perhatian penting, baik bagi dosen maupun mahasiswa, agar proses evaluasi berjalan adil dan bermartabat.
Tidak hanya menyampaikan kritik, mahasiswa juga mengajukan berbagai usulan inovatif untuk pengembangan Prodi Pendidikan Fisika. Di antaranya adalah:
pengembangan laboratorium digital atau virtual lab,
peningkatan variasi eksperimen dan studi lapangan,
pelatihan penulisan karya ilmiah,
penyediaan fasilitas Turnitin, serta
digitalisasi layanan akademik seperti KRS dan yudisium.
Usulan-usulan ini mencerminkan harapan mahasiswa agar Program Studi semakin modern, profesional, dan mampu mendukung kesiapan mereka sebagai calon guru fisika dan peneliti muda.
Dalam sambutannya, Dr. Haeruddin menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif seluruh dosen dan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa seluruh masukan, kritik, dan usulan mahasiswa akan menjadi dasar penyusunan langkah-langkah strategis perbaikan ke depan, bukan sekadar catatan administratif.
“Mahasiswa bukan objek evaluasi, melainkan mitra dalam penjaminan mutu. Apa yang mereka sampaikan hari ini akan kami tindak lanjuti secara sistematis demi pembelajaran yang lebih baik,” tegasnya.
Melalui Workshop Monev ini, Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako terus memperkuat budaya mutu dengan melibatkan mahasiswa sebagai bagian integral dari proses evaluasi dan pengambilan keputusan. Diharapkan, sinergi antara dosen dan mahasiswa ini akan melahirkan proses pembelajaran yang semakin berkualitas, adaptif, dan berorientasi pada pengembangan potensi mahasiswa secara optimal.