Tim Dosen dan Mahasiswa Pendidikan Fisika Gelar Pelatihan Software Tracker di SMAN 8 Palu

Palu, 15 Agustus 2025 — Upaya memperkuat pemahaman konsep fisika melalui pendekatan berbasis teknologi, Tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Tadulako melaksanakan kegiatan pelatihan pemanfaatan software Tracker bagi siswa dan guru SMAN 8 Palu pada Rabu, 14 Agustus 2025. Kegiatan yang berlangsung di laboratorium IPA sekolah tersebut merupakan bagian dari program pengabdian bertajuk “Membangun Literasi Digital Fisika: Analisis Gerak Benda dengan Tracker sebagai Media Pembelajaran Berbasis Video.”

Tim pengabdi dipimpin oleh Dr. Haeruddin, M.Si., didampingi Dr. Marungkil Pasaribu, M.Sc., Prof. Dr. Unggul Wahyono, M.Si., Delthawati Isti Ratnaningtyas, M.Pd., Ketut Alit Adi Untara, M.Pd., serta mahasiswa angkatan 2022 Syafikah Nur, Amelia Septianti, dan Susi Dewi. Mereka bekerja sama erat dengan guru-guru fisika SMAN 8 Palu, Selvianur, S.Pd., M.Pd., dan Wancenowati, S.Pd., yang turut aktif mendukung implementasi teknologi dalam pembelajaran.

Kegiatan ini dirancang khusus untuk mengatasi tantangan umum dalam pembelajaran fisika di tingkat SMA, yaitu kesulitan siswa dalam menginterpretasi grafik gerak lurus beraturan (GLB) dan gerak lurus berubah beraturan (GLBB). Banyak siswa mampu menghafal rumus, tetapi gagal memahami makna fisika di balik bentuk grafik posisi-waktu, kecepatan-waktu, atau percepatan-waktu. Untuk itu, tim memilih Tracker—software analisis video gratis berbasis open source yang mampu mengekstrak data gerak objek dari rekaman video—sebagai alat utama pembelajaran.

“Siswa sering melihat grafik sebagai simbol abstrak, bukan representasi nyata dari gerak benda di dunia nyata,” ujar Dr. Haeruddin dalam sambutan pembukaan. “Dengan Tracker, kami ingin membawa mereka ke dunia nyata: merekam bola yang dilempar, kereta mainan yang meluncur, atau bahkan gerakan tangan sendiri, lalu mengubahnya menjadi data visual yang bisa dianalisis secara langsung.”

Selama empat jam pelajaran, siswa kelas X dan XI diajak untuk praktik langsung. Mereka dibagi menjadi kelompok kecil, masing-masing diberi tugas merekam gerak benda sederhana menggunakan ponsel cerdas: bola yang menggelinding di atas meja, koin yang jatuh bebas, atau mobil mainan yang ditarik dengan tali. Video-video tersebut kemudian diunggah ke komputer dan dianalisis menggunakan Tracker. Di bawah bimbingan mahasiswa dan guru, siswa belajar cara menandai titik referensi, menyesuaikan skala, dan mengekstraksi data posisi terhadap waktu.

Pemanfaatan Software Tracker dalam Analisis Gerak Benda untuk Melatih Kemampuan Interpretasi Grafik Siswa SMAN 8

Yang menarik, tidak semua siswa awalnya percaya bahwa gerak sehari-hari bisa diukur secara akurat hanya dari video. Namun, ketika hasil analisis Tracker menunjukkan grafik linier untuk gerak bola di atas meja (mengindikasikan GLB), dan grafik parabola untuk gerak jatuh bebas koin (menunjukkan GLBB dengan percepatan konstan), reaksi mereka spontan. “Wah, jadi gerak itu bisa dihitung dari video?!” seru Rizky, salah satu siswa kelas XI IPA 2, sambil membandingkan grafik hasil analisisnya dengan rumus yang pernah dia pelajari di buku teks.

Guru Selvianur menyaksikan perubahan sikap siswa dengan antusiasme. “Sebelumnya, saat saya menjelaskan grafik kecepatan-waktu, banyak yang bingung kenapa gradien garis itu disebut percepatan. Sekarang, mereka bisa melihat sendiri bagaimana garis naik turun sesuai dengan percepatan nyata. Ini lebih powerful daripada puluhan slide PowerPoint.”

Tidak hanya siswa, guru-guru juga mendapat pelatihan intensif tentang integrasi Tracker dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). “Ini bukan sekadar alat tambahan,” kata Prof. Unggul Wahyono. “Ini adalah transformasi metodologi. Dengan Tracker, kita tidak lagi mengajar fisika sebagai ilmu hafalan, tapi sebagai ilmu observasi dan interpretasi data—sesuai dengan tuntutan kurikulum merdeka dan literasi sains abad 21.”

Hasil evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan interpretasi grafik. Sebanyak 87% siswa mampu mengidentifikasi jenis gerak dari grafik yang dihasilkan Tracker dengan benar, naik dari hanya 39% sebelum pelatihan. Lebih penting lagi, minat siswa terhadap fisika meningkat; 92% menyatakan tertarik untuk melakukan eksperimen serupa di rumah, bahkan beberapa telah meminta akses ke laptop sekolah untuk melanjutkan proyek mandiri.

Keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi kuat antara universitas, guru, dan siswa. “Kami tidak datang untuk mengajar, tapi untuk bersama-sama belajar,” ujar Delthawati, salah satu anggota tim. “Guru-guru SMAN 8 Palu sangat terbuka dan proaktif. Mereka sudah memiliki niat kuat untuk mengadaptasi teknologi, tinggal kami bantu memberi alat dan metode.”

Mahasiswa mendampingi Pemanfaatan Software Tracker dalam Analisis Gerak Benda untuk Melatih Kemampuan Interpretasi Grafik Siswa SMAN 8 Palu

Kegiatan ditutup dengan presentasi hasil karya siswa dan penyerahan paket panduan penggunaan Tracker beserta video tutorial kepada SMAN 8 Palu. Tim pengabdi juga berkomitmen untuk melakukan follow-up melalui platform daring, serta siap menjadi mitra dalam pengembangan modul pembelajaran berbasis Tracker yang dapat digunakan oleh sekolah-sekolah lain di Sulawesi Tengah.

Pemanfaatan Tracker, SMAN 8 Palu kini tidak hanya menjadi tempat belajar fisika, tapi laboratorium hidup di mana setiap gerak menjadi data, setiap data menjadi pemahaman, dan setiap pemahaman menjadi fondasi ilmu yang otentik. Di tengah era digital yang semakin cepat, pendidikan fisika tidak lagi cukup dengan papan tulis dan buku teks—tapi harus mampu menangkap gerak dunia nyata, lalu menjadikannya pelajaran yang hidup, relevan, dan bermakna.

Terkait