Menelusuri Etnosains Pesisir: Praktikum Lapangan Mahasiswa Pendidikan Fisika di Desa Lende Kabupaten Donggala

Praktikum lapangan menjadi salah satu pengalaman penting bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika dalam memahami bagaimana ilmu fisika hadir dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat. Tidak hanya dipelajari melalui rumus dan teori di ruang kelas, konsep-konsep fisika ternyata hidup dalam aktivitas sehari-hari masyarakat pesisir dan pertanian. Hal inilah yang menjadi semangat utama pelaksanaan Praktikum Lapangan Etnosains Mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako yang dilaksanakan di Desa Lende, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari dengan melibatkan mahasiswa Pendidikan Fisika yang didampingi langsung oleh para dosen pembina, yaitu Dr. Naurasyah Dewi Napitupulu, I Wayan Darmadi, M.Pd., Gustina, M.Pd., Ielda Paramitha, M.Pd., Miftah, M.Pd., dan Muh. Zaki, M.Pd. Praktikum lapangan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Koordinator Program Studi Pendidikan Fisika, Dr. Haeruddin, yang menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal dalam membangun kompetensi calon guru fisika masa depan.

Sejak pagi hari, rombongan mahasiswa berangkat menuju Desa Lende dengan membawa berbagai perlengkapan observasi, dokumentasi, serta instrumen wawancara yang telah dipersiapkan sebelumnya. Selain membawa perlengkapan penelitian, mahasiswa juga membawa bibit tanaman durian dan pala yang akan disumbangkan kepada masyarakat desa sebagai bentuk kepedulian lingkungan dan kontribusi nyata terhadap pengembangan potensi desa.

Sesampainya di Desa Lende, mahasiswa disambut hangat oleh perangkat desa dan masyarakat setempat. Suasana kekeluargaan sangat terasa sejak awal kegiatan. Setelah melakukan briefing dan koordinasi bersama perangkat desa, mahasiswa mulai melakukan observasi wilayah untuk mengenali kondisi geografis, kehidupan masyarakat, aktivitas pertanian, serta budaya pesisir yang menjadi ciri khas Desa Lende.

Dalam kegiatan lapangan tersebut, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan observasi, pengukuran, wawancara, serta dokumentasi aktivitas masyarakat. Mahasiswa mengunjungi kawasan pesisir Pantai Sivalenta dan Pantai Labuana untuk mengamati aktivitas nelayan serta fenomena alam yang terjadi di sekitar pantai. Mereka mencatat arah angin, tinggi gelombang, perubahan warna langit, hingga aktivitas pasang surut air laut.

Salah satu bagian paling penting dalam praktikum ini adalah wawancara mendalam bersama narasumber lokal yang memahami sejarah dan kehidupan masyarakat Desa Lende. Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Pak Arwin, Pak Arman, dan Pak Ajmien. Ketiganya memberikan banyak informasi mengenai budaya maritim, pengetahuan tradisional masyarakat, hingga cara masyarakat membaca tanda-tanda alam sebelum melaut.

Pak Arwin menjelaskan bagaimana nelayan menentukan waktu terbaik untuk melaut. Nelayan biasanya memperhatikan arah angin, bentuk awan, kondisi ombak, hingga cahaya bulan pada malam hari. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam keselamatan para nelayan saat berada di laut.

Sementara itu, Pak Arman banyak menjelaskan tentang aktivitas pertanian masyarakat Desa Lende. Ia menerangkan bagaimana petani menentukan musim tanam berdasarkan tanda-tanda alam seperti arah angin, kelembapan tanah, serta intensitas panas matahari. Mahasiswa menemukan bahwa praktik tersebut memiliki hubungan erat dengan konsep suhu, kalor, penguapan, dan perpindahan panas dalam fisika.

Pak Arman juga memperlihatkan beberapa alat pertanian tradisional yang masih digunakan masyarakat hingga saat ini. Mahasiswa kemudian mengidentifikasi adanya penerapan konsep pesawat sederhana seperti tuas dan bidang miring dalam alat-alat tersebut. Aktivitas ini membuat mahasiswa semakin memahami bahwa konsep fisika tidak hanya hadir di laboratorium, tetapi juga hidup dalam budaya masyarakat.

Narasumber lainnya, Pak Ajmien, memberikan penjelasan tentang kondisi laut dan perubahan cuaca yang sering terjadi di wilayah pesisir Desa Lende. Ia menjelaskan bagaimana nelayan mengenali tanda-tanda datangnya gelombang besar atau cuaca buruk hanya melalui perubahan warna langit dan arah angin. Pengetahuan lokal tersebut menunjukkan adanya kemampuan observasi alam yang sangat kuat dalam masyarakat pesisir.

Selain melakukan wawancara, mahasiswa juga melakukan pengukuran sederhana terhadap beberapa objek di lapangan. Mereka mengukur dimensi perahu tradisional, memperkirakan waktu tempuh nelayan menuju lokasi penangkapan ikan, serta mencatat kondisi suhu udara dan arah angin pada waktu yang berbeda. Data-data tersebut nantinya akan dianalisis untuk menghubungkan pengetahuan lokal dengan teori fisika formal.

Kegiatan praktikum lapangan ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, tetapi juga menanamkan nilai sosial dan kepedulian lingkungan kepada mahasiswa. Penyerahan bibit durian dan pala kepada masyarakat menjadi simbol kolaborasi antara kampus dan desa dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Bibit tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang sekaligus membantu penghijauan wilayah desa.

Penyerahan bibit dilakukan secara sederhana namun penuh makna. Perwakilan mahasiswa menyerahkan bibit kepada perangkat desa dan tokoh masyarakat sebagai bentuk rasa terima kasih atas sambutan hangat dan bantuan masyarakat selama kegiatan berlangsung. Masyarakat Desa Lende menyambut baik inisiatif tersebut dan berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan di masa mendatang.

Para dosen pembina juga aktif mendampingi mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Mereka memberikan arahan mengenai teknik observasi, cara melakukan wawancara yang baik, hingga bagaimana menghubungkan temuan lapangan dengan konsep-konsep fisika. Kehadiran dosen di lapangan membuat mahasiswa lebih percaya diri dalam melakukan pengumpulan data dan analisis awal.

Dr. Naurasyah Dewi Napitupulu menyampaikan bahwa pendekatan etnosains sangat penting dalam pendidikan fisika karena mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan budaya lokal masyarakat. Menurut beliau, calon guru fisika harus mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual sehingga siswa dapat memahami fisika melalui pengalaman nyata di lingkungan sekitar mereka.

Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator Program Studi Pendidikan Fisika, Dr. Haeruddin. Beliau menekankan bahwa kegiatan praktikum lapangan seperti ini merupakan bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan sosial, kemampuan penelitian, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Menurutnya, Desa Lende memiliki potensi etnosains yang sangat kaya dan dapat dikembangkan menjadi sumber belajar fisika berbasis kearifan lokal. Mulai dari aktivitas nelayan, bentuk perahu tradisional, sistem pertanian, hingga pengetahuan masyarakat tentang cuaca dan laut semuanya memiliki keterkaitan erat dengan konsep-konsep fisika modern.

Pada malam hari, mahasiswa melakukan diskusi dan refleksi bersama dosen pembina untuk membahas hasil temuan awal di lapangan. Dalam diskusi tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai konsep fisika yang berhasil mereka identifikasi dari aktivitas masyarakat Desa Lende. Beberapa kelompok bahkan mulai merancang ide pengembangan LKPD dan media pembelajaran berbasis etnosains.

Kegiatan praktikum lapangan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa Pendidikan Fisika. Mereka tidak hanya belajar melakukan penelitian lapangan, tetapi juga belajar menghargai budaya dan pengetahuan lokal masyarakat. Mahasiswa menyadari bahwa ilmu fisika sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan telah dipraktikkan masyarakat secara turun-temurun meskipun tanpa menggunakan istilah ilmiah.

Di akhir kegiatan, mahasiswa dan dosen melakukan penutupan dan pamitan dengan masyarakat Desa Lende. Suasana haru dan penuh kekeluargaan terasa ketika masyarakat berharap agar mahasiswa dapat kembali lagi di masa depan untuk melanjutkan penelitian dan pengabdian di desa tersebut.

Praktikum lapangan di Desa Lende menjadi bukti nyata bahwa pendidikan fisika dapat dikembangkan melalui pendekatan budaya dan lingkungan lokal. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman sosial, budaya, dan kemanusiaan yang sangat berharga dalam perjalanan mereka sebagai calon pendidik masa depan.

Terkait