Palu, 17 Oktober 2025 — Aula FKIP 40 Universitas Tadulako dipenuhi antusiasme mahasiswa dan dosen pada Jumat pagi saat berlangsungnya kegiatan Diskusi Masyarakat Fisika ke-2. Acara yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika (HIMAFI) ini mengangkat tema inspiratif: “Fisikawan Muda sebagai Duta Teknologi di Era Revolusi Industri 5.0.”
Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi mahasiswa Pendidikan Fisika untuk memperluas wawasan dan memantapkan peran mereka di tengah perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital dan integrasi kecerdasan buatan dalam berbagai bidang kehidupan.
Acara dibuka secara resmi oleh Koordinator Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako, Dr. Haeruddin, M.Si., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kegiatan semacam ini sebagai ruang refleksi akademik dan penguatan karakter mahasiswa calon pendidik di masa depan.
“Peran fisikawan muda di era Revolusi Industri 5.0 tidak hanya terbatas pada bidang akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani dunia pendidikan dengan teknologi. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa diajak untuk berpikir lebih luas, adaptif, dan inovatif,” tutur Dr. Haeruddin disambut tepuk tangan peserta.
Diskusi ini menghadirkan narasumber utama, H. Hamzah Ramdhani, M.Pd., seorang pendidik berpengalaman yang telah lama dikenal sebagai penggerak transformasi digital di dunia pendidikan. Beliau merupakan guru yang aktif sebagai fasilitator dalam berbagai program nasional penguatan kompetensi digital bagi pendidik, dan saat ini beralih tugas sebagai Widyaiswara di Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK).
Dalam paparannya yang inspiratif, Hamzah Ramdhani membagikan pengalaman dan pandangan tentang bagaimana generasi muda, khususnya mahasiswa fisika, dapat menjadi duta teknologi yang berperan aktif dalam membangun ekosistem pendidikan berbasis digital.
“Menjadi fisikawan muda di era Revolusi Industri 5.0 berarti mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang sangat cepat. Kalian bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga duta yang membawa nilai-nilai kemanusiaan di tengah digitalisasi. Pendidikan dan teknologi harus berjalan beriringan,” jelasnya di hadapan peserta yang memenuhi ruangan.
Beliau menekankan bahwa transformasi digital bukan hanya soal perangkat atau aplikasi, tetapi tentang mindset dan budaya kerja baru yang menuntut kolaborasi, inovasi, serta kemampuan berpikir kritis.
“Dalam konteks pendidikan, guru fisika harus bisa memanfaatkan teknologi untuk memperkuat pengalaman belajar siswa, bukan menggantikannya. Itulah mengapa fisikawan muda harus siap menjadi fasilitator teknologi yang inspiratif,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung selama hampir tiga jam ini dipandu dengan dinamis oleh moderator dari HIMAFI. Diskusi berkembang hangat, terutama ketika peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan berdialog langsung dengan narasumber.
Beberapa mahasiswa menanyakan tentang strategi guru dalam menghadapi tantangan integrasi teknologi di sekolah, terutama di daerah yang masih terbatas infrastruktur digitalnya. Hamzah Ramdhani dengan sabar memberikan jawaban berdasarkan pengalamannya di lapangan.
“Teknologi bukan selalu tentang internet cepat atau perangkat canggih. Esensi dari teknologi adalah bagaimana kita bisa berinovasi dengan keterbatasan. Guru yang kreatif bisa menjadi teladan bahkan tanpa fasilitas lengkap, asalkan punya semangat adaptasi dan kemauan belajar,” ujarnya memberi semangat kepada para mahasiswa calon guru.
Para peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Program Studi Pendidikan Fisika, tetapi juga beberapa mahasiswa dari jurusan lain di FKIP yang tertarik pada tema teknologi pendidikan. Kehadiran lintas program studi ini memperkaya diskusi dan menunjukkan keterbukaan HIMAFI terhadap kolaborasi lintas disiplin.
Dalam sambutannya, Ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika (HIMAFI), Muh. Afriansyah, menyampaikan bahwa kegiatan Diskusi Masyarakat Fisika merupakan agenda rutin yang dirancang untuk menumbuhkan budaya berpikir kritis dan ilmiah di kalangan mahasiswa.
“Diskusi ini adalah bentuk komitmen HIMAFI untuk terus menghadirkan ruang dialog akademik yang relevan dengan perkembangan zaman. Tema tahun ini kami pilih karena kami ingin mahasiswa Fisika tidak hanya cakap secara teoretis, tetapi juga memiliki visi teknologi yang humanis dan berdampak,” ujar Afriansyah.
Ia menambahkan bahwa HIMAFI akan terus mengembangkan kegiatan serupa yang menyentuh isu-isu aktual di dunia pendidikan dan sains, agar mahasiswa memiliki perspektif luas dan siap menghadapi tantangan global.
Sementara itu, Ketua Panitia Diskusi Masyarakat Fisika ke-2, Jayadi, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan ini. Ia mengapresiasi kerja sama panitia dan dukungan dari pihak program studi serta seluruh peserta.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi, khususnya kepada narasumber Bapak H. Hamzah Ramdhani yang telah berbagi ilmu dan inspirasi. Semoga semangat fisikawan muda dalam menguasai teknologi terus tumbuh di lingkungan kita,” ungkap Jayadi.
Diskusi ditutup dengan refleksi bersama mengenai pentingnya posisi fisika dalam mendukung kemajuan teknologi dan pendidikan. Dr. Haeruddin dalam penutupan acara menegaskan kembali bahwa fisikawan tidak boleh terjebak dalam pemahaman sempit sebagai “orang laboratorium”, tetapi harus menjadi problem solver di era digital.
“Kita hidup di masa di mana teknologi tidak lagi hanya membantu manusia, tetapi juga membentuk cara kita berpikir dan berinteraksi. Karena itu, fisikawan harus menjadi duta yang memastikan teknologi digunakan untuk kemajuan, bukan sebaliknya,” tuturnya.
Kegiatan kemudian diakhiri dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber oleh Ketua HIMAFI, disusul sesi foto bersama seluruh peserta dan panitia. Suasana hangat dan penuh semangat menutup kegiatan Diskusi Masyarakat Fisika ke-2 ini.
Diskusi Masyarakat Fisika ke-2 membuktikan bahwa mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tadulako tidak hanya berfokus pada penguasaan teori dan eksperimen ilmiah, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap isu sosial dan teknologi yang berkembang.
Melalui kegiatan ini, HIMAFI berupaya melahirkan generasi “fisikawan muda yang adaptif, inovatif, dan berdaya guna” — sesuai semangat Revolusi Industri 5.0 yang menempatkan manusia sebagai pusat dari kemajuan teknologi.
Dengan kolaborasi yang kuat antara mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan seperti H. Hamzah Ramdhani, kegiatan ini menjadi bukti bahwa komunitas fisika di Universitas Tadulako terus bertransformasi menuju masa depan yang lebih visioner dan inklusif.