Ketika Layar Gawai Menjadi Laboratorium: Pelatihan PhET Interactive Simulations Ubah Wajah Pembelajaran Sains di SD Inpres 3 Tondo Palu

PALU, Pendidikan Fisika — Tidak ada tabung reaksi yang pecah, tidak ada bahan kimia yang tumpah, dan tidak ada lagi keluhan tentang keterbatasan alat peraga. Di sebuah ruang kelas sederhana di SD Inpres 3 Tondo, Kota Palu, enam belas guru dan siswa duduk menghadap layar gawai dan laptop masing-masing dengan mata berbinar. Di hadapan mereka, sebuah simulasi interaktif menampilkan gerak partikel, rangkaian listrik, dan gelombang cahaya yang dapat dimanipulasi hanya dengan sentuhan jari. Hari itu, 26 Agustus 2026, laboratorium sains tidak lagi bergantung pada lemari kaca berisi peralatan mahal. Laboratorium itu kini hidup di dalam layar.
Kegiatan bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Pemanfaatan Virtual Lab PhET Interactive Simulations untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar” ini digagas dan dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat yang terdiri atas Syamsuriwal, Nurul Kami Sani, I Wayan Darmadi, dan Andi Ulfah Khuzaimah. Dua mahasiswa, yakni Nurul Fatiah Itami dan Rafika Rahmat, turut terlibat aktif dalam mendampingi peserta selama proses pelatihan berlangsung. Kegiatan ini menyasar 16 orang guru dan siswa di SD Inpres 3 Tondo Palu, dengan tujuan utama memperkuat kemampuan guru dalam mengenal, mengakses, menggunakan, memilih, dan menerapkan PhET Interactive Simulations sebagai laboratorium virtual untuk mendukung pembelajaran sains di tingkat sekolah dasar.

Kesenjangan antara Kurikulum dan Realitas Ruang Kelas

Kepala SD Inpres 3 Tondo Palu, Nurfitri, S.Pd., M.Pd., menyambut kedatangan tim pengabdian dengan penuh antusiasme. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan sebuah realitas yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi sekolah-sekolah dasar di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah. “Kurikulum menuntut anak-anak kita memahami konsep sains secara mendalam, memahami mengapa es mencair, mengapa lampu menyala, mengapa planet berputar. Namun di sisi lain, banyak sekolah kita yang tidak memiliki laboratorium memadai, alat peraga terbatas, bahkan bahan praktikum sederhana pun sulit diperoleh. Guru akhirnya mengajar sains seperti mengajar sejarah—cerita, hafalan, dan buku teks semata,” tutur Nurfitri dengan nada reflektif.
Ketika Layar Gawai Menjadi Laboratorium: Pelatihan PhET Interactive Simulations Ubah Wajah Pembelajaran Sains di SD Inpres 3
Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi lahirnya kegiatan pengabdian ini. Syamsuriwal, selaku koordinator tim, menjelaskan bahwa PhET Interactive Simulations merupakan platform laboratorium virtual yang dikembangkan oleh University of Colorado Boulder dan dapat diakses secara gratis oleh siapa pun di seluruh dunia. Platform ini menyediakan ratusan simulasi interaktif yang mencakup berbagai topik fisika, kimia, biologi, dan ilmu bumi, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
“PhET bukan sekadar animasi atau video pembelajaran. Ini adalah simulasi interaktif di mana siswa bisa mengubah variabel, mengamati akibatnya, dan membangun pemahaman konseptual secara mandiri. Guru tidak lagi harus berkata ‘bayangkan saja’ ketika menjelaskan konsep abstrak. Mereka bisa menunjukkannya secara langsung, bahkan membiarkan siswa mengeksplorasinya sendiri,” jelas Syamsuriwal di hadapan para peserta pelatihan.

Learning by Doing: Dari Demonstrasi hingga Praktik Langsung

Pelatihan dirancang secara interaktif dan bertahap, menjauhi format seminar satu arah yang kerap membuat peserta mengantuk. Sesi pertama berupa pemaparan materi yang memperkenalkan filosofi di balik PhET Interactive Simulations, cara mengakses platform melalui peramban internet, serta fitur-fitur utama yang tersedia. Nurul Kami Sani memandu sesi ini dengan bahasa yang lugas dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari guru sekolah dasar.
Memasuki sesi demonstrasi, I Wayan Darmadi mengambil alih layar proyektor dan memperlihatkan secara langsung bagaimana sebuah simulasi rangkaian listrik sederhana dapat dijalankan. Ia menggeser slider tegangan, menambahkan bola lampu, mengubah hambatan, dan seketika itu pula nyala lampu pada layar berubah terang atau redup. Beberapa guru yang duduk di barisan depan tanpa sadar condong ke depan, mulut mereka sedikit terbuka, seolah menyaksikan pertunjukan sulap. “Pak, ini bisa dipakai untuk kelas V? Anak-anak pasti senang sekali kalau bisa coba-coba sendiri seperti ini,” celetuk salah seorang guru dengan antusias.
Sesi inti pelatihan menggunakan pendekatan learning by doing. Setiap peserta diminta membuka perangkat masing-masing dan langsung mempraktikkan penggunaan PhET. Andi Ulfah Khuzaimah bersama dua mahasiswa pendamping, Nurul Fatiah Itami dan Rafika Rahmat, berkeliling dari satu peserta ke peserta lain, membantu mereka yang mengalami kesulitan mengakses platform, memilih simulasi yang tepat, atau mengoperasikan fitur-fitur interaktif. Suasana ruang kelas berubah menjadi bengkel kerja yang hidup—penuh tanya jawab, tawa kecil ketika seseorang berhasil menemukan simulasi yang dicari, dan diskusi spontan tentang bagaimana mengaitkannya dengan materi ajar di kelas.

Bukan Sekadar Mengenalkan Teknologi, tetapi Membangun Kompetensi Pedagogis

Tim pelaksana menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini bukan semata-mata memperkenalkan teknologi kepada guru. Lebih dari itu, pelatihan ini diarahkan untuk membangun kompetensi pedagogis guru dalam memilih simulasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tertentu dan mengintegrasikannya ke dalam aktivitas belajar sains secara bermakna. Dalam sesi diskusi dan refleksi, peserta diajak untuk tidak sekadar menggunakan PhET sebagai pengganti demonstrasi guru, melainkan sebagai wahana inkuiri siswa—di mana anak-anak diberi kesempatan untuk bertanya, memprediksi, menguji, dan menyimpulkan.
Pada sesi penyusunan contoh aktivitas pembelajaran, guru-guru dibagi ke dalam kelompok kecil dan diminta merancang satu skenario pembelajaran sains yang mengintegrasikan simulasi PhET. Ada kelompok yang memilih simulasi states of matter untuk mengajarkan perubahan wujud zat di kelas IV, ada yang memilih simulasi gravity untuk kelas VI, dan ada pula yang merancang aktivitas pengukuran menggunakan simulasi interaktif untuk kelas III. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan rancangannya di depan peserta lain dan menerima umpan balik dari tim pelaksana.
Rafika Rahmat, salah satu mahasiswa yang terlibat, mengaku terkesan dengan semangat para guru. “Awalnya ada beberapa guru senior yang tampak ragu-ragu menggunakan laptop. Tetapi begitu mereka berhasil menjalankan simulasi pertama dan melihat bagaimana konsep yang biasanya sulit dijelaskan menjadi begitu visual dan interaktif, ekspresi mereka berubah total. Mereka malah yang paling aktif bertanya dan ingin mencoba simulasi lain,” kenangnya.

Harapan yang Tumbuh di Tondo

Menjelang sore, ketika kegiatan pelatihan memasuki sesi penutup, Nurfitri kembali mengambil tempat di depan ruang kelas. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada tim pengabdian dan menegaskan komitmen sekolah untuk menindaklanjuti pelatihan ini dalam praktik pembelajaran sehari-hari. “Kami tidak ingin ini menjadi kegiatan satu hari yang kemudian dilupakan. Kami akan jadwalkan sesi praktik rutin agar guru-guru semakin terbiasa menggunakan PhET. Anak-anak kita berhak mendapatkan pembelajaran sains yang hidup, yang membuat mereka bertanya ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’, bukan sekadar menghafal jawaban di buku,” tegasnya.
I Wayan Darmadi menambahkan bahwa tim pelaksana akan terus melakukan pendampingan pasca-pelatihan melalui komunikasi daring dan kunjungan berkala untuk memastikan bahwa guru-guru SD Inpres 3 Tondo tidak berjalan sendiri dalam mengimplementasikan laboratorium virtual di kelas. “Teknologi hanya alat. Yang utama adalah bagaimana guru memaknainya dalam konteks pedagogis. Kami akan terus mendampingi agar PhET benar-benar menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran sains di sekolah ini, bukan sekadar aplikasi yang diunduh lalu ditinggalkan,” ujarnya.

Penutup: Demokratisasi Laboratorium

Di sebuah sudut Kota Palu, di sebuah sekolah dasar yang mungkin tidak akan pernah memiliki laboratorium sains berstandar dengan peralatan lengkap, enam belas guru dan siswa telah menemukan jalan lain. Mereka menemukan bahwa laboratorium bisa muat di dalam gawai seukuran telapak tangan, bahwa eksperimen bisa dilakukan tanpa risiko dan tanpa biaya, dan bahwa rasa ingin tahu anak-anak tidak harus menunggu hingga sekolah mampu membeli mikroskop atau kit listrik.
PhET Interactive Simulations, dalam konteks ini, bukan sekadar perangkat lunak. Ia adalah jembatan—jembatan antara keterbatasan dan kemungkinan, antara ruang kelas yang sederhana dan cakrawala sains yang tak terbatas. Dan di SD Inpres 3 Tondo Palu, jembatan itu baru saja mulai dibangun, satu simulasi dalam satu waktu, satu guru dalam satu langkah, dan satu siswa dalam satu rasa takjub.

Terkait