Penguatan Literasi Sains Siswa SMP Melalui Eksplorasi Konsep Fisika Berbasis Kearifan Lokal Sulawesi Tengah: Ketika Tilako, Dero, dan Kaledo Menjadi Laboratorium Alam

PALU, Pendidikan Fisika — Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi pendidikan, sekelompok akademisi dari perguruan tinggi di Sulawesi Tengah memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak membawa perangkat teknologi canggih ke ruang kelas, melainkan membawa kisah tentang permainan tradisional Tilako, tarian Dero yang menghentak, rumah adat Tambi yang berdiri kokoh, perahu Sope yang membelah ombak, semangkuk Kaledo yang mengepulkan uap, hingga dentingan Kakula yang menggema di lembah-lembah Palu. Semua itu dijadikan pintu masuk untuk mengajarkan fisika kepada siswa Sekolah Menengah Pertama.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Literasi Sains bagi Siswa SMP Melalui Eksplorasi Konsep Fisika Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Sulawesi Tengah” ini dilaksanakan di SMP Negeri Model Terpadu Madani, Kota Palu, pada Rabu, 10 September 2026. Program ini menyasar 29 orang siswa kelas VII dan satu orang guru fisika sebagai mitra pendampingan. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Gustina, S.Pd., M.Pd. (NIP: 198908102015042001) selaku Ketua Pelaksana, dengan dukungan tim yang terdiri atas Wahyuni N. Laratu, S.Pd., M.Pd. (NIDK: 8826640017), Prof. Dr. Jusman Mansyur, M.Si. (NIP: 196908181997031001), dan Prof. Dr. I Komang Werdhiana, M.Si. (NIP: 196803301993031003) sebagai anggota. Turut serta dalam pelaksanaan kegiatan ini tiga mahasiswa, yakni Andi Fahreza (A24123113), Agus Maendra (A241230957), dan Amelia Septianti (A24122102), yang berperan aktif dalam pendampingan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Menjawab Keresahan Pembelajaran Fisika di Ruang Kelas

Kepala SMP Negeri Model Terpadu Madani, Supriady M. Djafar, S.Pd., M.M., menyambut hangat kehadiran tim pengabdian di sekolahnya. Menurutnya, pembelajaran fisika di tingkat SMP kerap kali terjebak pada penyampaian rumus dan definisi yang kering, tanpa mampu menyentuh pengalaman hidup siswa sehari-hari. “Anak-anak kita hafal rumus hukum Newton, tetapi ketika ditanya mengapa perahu nelayan tidak tenggelam atau mengapa tarian Dero membutuhkan keseimbangan, mereka kebingungan. Di sinilah letak persoalannya,” ujar Supriady saat membuka kegiatan workshop.
Hasil identifikasi awal yang dilakukan tim pelaksana melalui observasi langsung dan telaah perangkat pembelajaran di sekolah mitra mengonfirmasi keresahan tersebut. Pembelajaran fisika masih menghadapi kendala signifikan dalam menghubungkan konsep abstrak dengan fenomena kehidupan nyata. Ketersediaan bahan ajar yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal dinilai masih sangat terbatas. Literasi sains siswa, yang menjadi fondasi berpikir kritis dan pemecahan masalah, juga teridentifikasi perlu ditingkatkan secara sistematis.

Dari Tilako hingga Kakula: Memetakan Fisika dalam Denyut Budaya

Tahap pemetaan kearifan lokal menjadi salah satu fase paling krusial dalam program ini. Tim pelaksana melakukan studi literatur mendalam dan eksplorasi lapangan terhadap praktik budaya, lingkungan, teknologi tradisional, serta berbagai aktivitas masyarakat Sulawesi Tengah yang memiliki keterkaitan erat dengan konsep fisika tingkat SMP. Dari proses tersebut, lahir sebuah bahan ajar fisika berbasis kearifan lokal yang telah melalui uji kelayakan dan dinyatakan layak digunakan dalam pembelajaran.
Bahan ajar tersebut memuat enam konsep fisika utama yang dipadukan dengan enam elemen budaya khas Sulawesi Tengah. Konsep gaya, hukum Newton, momentum, dan impuls dikaitkan dengan permainan tradisional Tilako, sebuah permainan rakyat yang melibatkan dorongan, tarikan, dan benturan antar pemain. Konsep gerak melingkar diilustrasikan melalui tarian Dero, tarian komunal khas Sulawesi Tengah yang membentuk lingkaran dan bergerak seirama. Konsep kesetimbangan benda tegar dan elastisitas diwujudkan dalam arsitektur rumah adat Tambi, yang telah berdiri selama ratusan tahun tanpa paku besi. Konsep hukum Archimedes dijelaskan melalui perahu tradisional Sope yang mampu mengapung dan membelah perairan Teluk Palu. Konsep termodinamika dihadirkan lewat proses memasak makanan tradisional Kaledo, sup khas Palu yang membutuhkan pengaturan panas dan perpindahan kalor yang presisi. Sementara itu, konsep gelombang bunyi dieksplorasi melalui alat musik Kakula, instrumen tradisional yang menghasilkan nada-nada khas dari getaran logam dan kayu.
“Kami ingin siswa memahami bahwa fisika bukan sesuatu yang jauh dan asing. Fisika ada di setiap langkah tarian Dero mereka, di setiap sendok Kaledo yang mereka santap, di setiap denting Kakula yang mereka dengar saat upacara adat,” ungkap Gustina selaku Ketua Pelaksana.

Workshop dan Pendampingan: Proses yang Menghidupkan Kelas

Metode pelaksanaan kegiatan dirancang secara bertahap dan partisipatif. Kegiatan diawali dengan ceramah aktif dan sesi tanya jawab untuk membangun kerangka berpikir siswa. Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan kegiatan literasi sains bersama menggunakan bahan ajar berbasis kearifan lokal yang telah disiapkan. Dalam proses ini, mahasiswa pendamping berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa menghubungkan fenomena budaya dengan konsep fisika yang dipelajari.
Setelah proses pembelajaran, siswa mengikuti tes literasi sains yang disusun berdasarkan indikator Programme for International Student Assessment (PISA), mencakup tiga aspek utama: mengidentifikasi isu-isu ilmiah, menjelaskan fenomena ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah terhadap permasalahan kontekstual. Sebagai pelengkap, tim juga membagikan angket respon siswa berisi 20 item pernyataan untuk mengukur persepsi dan pengalaman belajar mereka.

Hasil yang Menggembirakan: Angka Bicara, Budaya Menyapa

Hasil tes literasi sains menunjukkan capaian yang menggembirakan. Rata-rata nilai keseluruhan siswa mencapai 70,3, yang masuk dalam kategori baik. Secara lebih rinci, aspek mengidentifikasi isu-isu ilmiah memperoleh rerata nilai tertinggi, yakni 81,0 dalam kategori sangat baik. Aspek menjelaskan fenomena ilmiah mencatatkan rerata 72,7 dalam kategori baik, sementara aspek menggunakan bukti ilmiah terhadap permasalahan kontekstual memperoleh rerata 53,7, juga dalam kategori baik.
Namun, barangkali yang paling menyentuh bukan sekadar angka-angka tersebut, melainkan antusiasme yang terpancar dari wajah-wajah siswa ketika mereka menyadari bahwa budaya yang selama ini mereka jalani sehari-hari ternyata menyimpan prinsip-prinsip fisika yang rumit dan indah. “Saya baru tahu ternyata rumah Tambi itu ada ilmu keseimbangan dan elastisitasnya. Selama ini saya cuma tahu itu rumah nenek moyang, ternyata ada fisikanya juga,” kata salah seorang siswa kelas VII dengan mata berbinar.
Angket respon siswa pun mengonfirmasi antusiasme tersebut. Aspek motivasi belajar fisika dan kefektifan penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal memperoleh persentase rerata 84,4 persen dengan kategori sangat setuju. Aspek kualitas dan penggunaan bahan ajar berbasis kearifan lokal mencatatkan persentase rerata 82,2 persen dalam kategori sangat setuju. Yang paling menonjol, aspek kesadaran siswa akan pentingnya keterkaitan antara konsep fisika dan pelestarian budaya meraih persentase rerata tertinggi, yakni 90,3 persen dengan kategori sangat setuju. Secara keseluruhan, 85,7 persen siswa menyatakan sangat setuju terhadap penguatan literasi sains melalui eksplorasi konsep fisika berbasis kearifan lokal masyarakat Sulawesi Tengah.
Prof. Dr. Jusman Mansyur, M.Si., salah satu anggota tim pelaksana, menegaskan bahwa kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada satu hari workshop semata. Luaran utama yang ditargetkan dari program ini adalah publikasi artikel ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi. Melalui publikasi tersebut, diharapkan hasil pengabdian dapat menjadi referensi bagi pengembangan bahan ajar berbasis kearifan lokal sebagai praktik pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.
Selain itu, tim pelaksana juga menargetkan perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas bahan ajar fisika berbasis etnosains yang telah dikembangkan. “HKI ini penting agar bahan ajar yang kami susun memiliki perlindungan hukum sekaligus dapat dimanfaatkan secara luas oleh guru-guru fisika di Sulawesi Tengah dan daerah lainnya. Ini adalah bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi untuk mendukung pembelajaran fisika yang lebih kontekstual, bermakna, dan berkelanjutan,” jelas Prof. Dr. I Komang Werdhiana, M.Si.
Prof. Dr. Jusman Mansyur menambahkan bahwa pendekatan etnosains dalam pembelajaran fisika bukan sekadar strategi pedagogis, melainkan juga sebuah ikhtiar pelestarian kebudayaan. “Ketika siswa belajar hukum Archimedes melalui perahu Sope, mereka tidak hanya memahami konsep mengapung, tetapi juga menghargai kecerdasan nenek moyang mereka dalam merancang perahu tradisional. Ini adalah pendidikan yang memanusiakan dan membudayakan,” tuturnya.

Epilog: Fisika yang Membumi

Di penghujung kegiatan, suasana kelas VII SMP Negeri Model Terpadu Madani terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi tatapan kosong saat guru menyebut kata “gaya” atau “momentum”. Yang ada adalah tangan-tangan yang terangkat, pertanyaan-pertanyaan yang mengalir, dan tawa yang meledak ketika seorang siswa mencoba menjelaskan hukum Newton sambil memperagakan gerakan bermain Tilako.
Supriady M. Djafar menutup kegiatan dengan sebuah pesan sederhana namun bermakna. “Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti di sini. Anak-anak kami perlu terus diingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya ada di buku teks impor, tetapi juga hidup di tanah tempat mereka berpijak, di budaya yang mereka warisi, dan di kearifan yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat Sulawesi Tengah,” ujarnya.
Di Kota Palu yang pernah porak-poranda oleh gempa dan likuefaksi pada 2018, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa membangun kembali tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal membangun cara berpikir, membangun literasi, dan membangun kebanggaan akan identitas sendiri. Dan di ruang kelas kecil itu, fisika tidak lagi menjadi mata pelajaran yang ditakuti. Fisika telah menjadi cerita tentang Tilako, Dero, Tambi, Sope, Kaledo, dan Kakula—cerita tentang rumah mereka sendiri.

Terkait