Kedekatan dengan situs bersejarah belum selalu membuat generasi muda mengenal warisan budaya di sekitarnya. Di Lembah Behoa, Kabupaten Poso, sejumlah siswa masih memiliki pengetahuan yang terbatas tentang peninggalan megalitik dan cerita masyarakat yang berkaitan dengannya. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen Universitas Tadulako di SMP Negeri SATAP Hanggira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, pada 21–22 Agustus 2026.
Pada kegiatan yang melibatkan 31 siswa dan lima guru tersebut, Muhammad Zaky, dosen Pendidikan Fisika Universitas Tadulako, mengembangkan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) sebagai media untuk mengenalkan peninggalan megalitik Behoa. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan bersama Nurgan Tadeko, Lukman, dan Idrus. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan dapat membuat pembelajaran sejarah lokal lebih menarik dan dekat dengan kehidupan siswa. Melalui demonstrasi VR, peserta diajak mengamati representasi peninggalan megalitik dalam lingkungan virtual serta mengenali bentuk dan karakteristik objek yang ditampilkan.
Peninggalan megalitik di Lembah Behoa merupakan bagian dari kekayaan budaya Sulawesi Tengah. Bagi masyarakat setempat, situs-situs tersebut tidak hanya menghadirkan jejak kehidupan masa lampau, tetapi juga berkaitan dengan identitas dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Meski berada dekat dengan kawasan tersebut, sebagian siswa belum mengenal peninggalan megalitik secara memadai. Keadaan ini menunjukkan pentingnya menghadirkan sejarah lokal dalam pembelajaran dengan cara yang mudah dipahami dan menarik bagi peserta didik.
Melalui pengembangan AR dan VR, Muhammad Zaky berupaya menghadirkan pilihan media pembelajaran yang menghubungkan teknologi dengan pengenalan budaya lokal. Dalam kegiatan pengabdian, VR digunakan sebagai sarana pengenalan awal agar siswa memiliki gambaran tentang objek megalitik dan terdorong untuk mempelajarinya lebih lanjut. Penggunaan teknologi tersebut juga diharapkan dapat melengkapi kegiatan belajar di luar kelas. Pengamatan langsung ke situs tetap penting agar siswa dapat memahami kondisi peninggalan budaya dan lingkungan tempat situs itu berada.
Kegiatan pengabdian tidak hanya memperkenalkan perangkat teknologi. Siswa dan guru juga mengikuti pengenalan sejarah lokal, mengamati objek megalitik secara virtual, serta berdiskusi mengenai langkah yang dapat dilakukan untuk melanjutkan pembelajaran. Tim pengabdian merancang empat tindakan utama, yaitu mengamati, memeriksa, menceritakan, dan menjaga. Siswa diajak mengamati karakteristik objek melalui media virtual dan dokumentasi lapangan, kemudian memeriksa informasi dengan membandingkannya bersama sumber sejarah dan pengetahuan masyarakat lokal.
Selanjutnya, siswa diarahkan menyusun cerita singkat tentang peninggalan megalitik dalam bentuk audio atau video. Dalam rancangan tindak lanjut, narasi tersebut berdurasi sekitar 60–90 detik dan memuat informasi sejarah atau budaya yang diperiksa bersama guru dan narasumber lokal. Tahap menjaga menekankan kesadaran bahwa situs budaya perlu dilestarikan, termasuk melalui pemahaman tentang etika ketika berkunjung. Dengan demikian, siswa diharapkan tidak hanya mengenal objek yang dipelajari, tetapi juga mampu menyampaikan pengetahuan tersebut dan ikut menjaga peninggalan di lingkungan mereka.
Pengembangan AR dan VR oleh dosen Pendidikan Fisika Untad menunjukkan peluang pemanfaatan teknologi pembelajaran untuk mendukung pengenalan budaya lokal. Media digital dapat menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengenal objek yang mungkin selama ini dekat secara geografis, tetapi belum banyak dipahami. Kegiatan di SMP Negeri SATAP Hanggira juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang kelas melalui kerja sama antara dosen, guru, siswa, dan masyarakat. Teknologi menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, sedangkan pengetahuan lokal membantu siswa memahami makna warisan budaya yang mereka pelajari. Melalui pembelajaran yang berkelanjutan, generasi muda di Lembah Behoa diharapkan semakin mengenal peninggalan megalitik dan mengambil peran dalam menjaganya untuk masa depan.